Manfaat Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi) bagi Mahasiswa
Sebagian besar orang mengetahui bahwa penulisan karya ilmiah (skripsi) adalah tugas akhir yang merupakan salah satu syarat terpenting bagi seorang mahasiswa agar dapat lulus dari perguruan tinggi. Syarat ini diberlakukan karena dianggap selaras dengan TriDharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak mahasiswa, baik yang masih berada pada semester awal maupun yang sudah bertahun-tahun menjalani kegiatan perkuliahan, merasa gusar setiap kali membahas soal skripsi. Umumnya, kekhawatiran ini disebabkan oleh ketakutan akan ketidakmampuan mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhir sesuai dengan target waktu yang sudah ditentukan. Hal ini tentu saja dapat dimaklumi karena proses penulisan karya ilmiah memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan dan tidak selalu berjalan dengan mulus karena adanya faktor-faktor tertentu.
Berdiskusi dengan dosen pembimbing, menentukan topik dan judul skripsi, mempelajari dan menganalisis data, hingga menghadiri sidang skripsi merupakan serangkaian langkah yang harus ditempuh seorang mahasiswa sebelum dapat dinyatakan lulus. Proses ini tentunya menghabiskan banyak waktu, materi, dan tenaga serta dapat menimbulkan tekanan, baik secara emosional maupun finansial, pada mahasiswa tersebut. Pengerjaan tugas akhir bukanlah sesuatu yang dianggap menyenangkan bagi para mahasiswa sehingga tak jarang kita mendengar atau melihat berbagai keluhan yang mereka lontarkan baik secara langsung maupun di media sosial. Salah satu media sosial yang paling sering dijadikan tempat mahasiswa untuk mengungkapkan keluh kesah mereka adalah Twitter. Jika kita menelusuri media sosial tersebut, kita akan menemukan banyak sekali mahasiswa yang mempertanyakan alasan penulisan skripsi dijadikan salah satu syarat kelulusan wajib.
“Bisa gak, sih, lulus tanpa skripsi? Siapa, sih, yang bikin syarat beginian? Bikin gila aje,” tulis seorang warganet (@myfavoriitesong) di Twitter (07/03/22).
Tidak hanya itu, beberapa mahasiswa lainnya juga mempertanyakan asal-usul kemunculan skripsi di perguruan tinggi, mengingat banyak dari mereka yang menganggap tugas akhir tersebut sebagai batu sandungan bagi mahasiswa yang ingin segera lulus. Hal ini tentu saja bukan sebuah kejutan. Pasalnya, dari sekian ratus jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) yang sudah diambil, mahasiswa diharuskan untuk menambah 6 SKS lagi sebelum mendapatkan gelar sarjana mereka.
“Orang pertama yang punya ide ‘Eh, kayaknya seru, deh, kalo ngasih tugas skripsi ke anak-anak sebelom mereka lulus kuliah’ siapa ya?” celoteh warganet dengan username @fidesakhsan di Twitter (04/02/22).
Sayangnya, hingga sekarang, tidak ada yang dapat mengonfirmasi siapa orang pertama yang mencetuskan skripsi sebagai syarat kelulusan. Namun, skripsi sebenarnya merupakan sebuah tradisi yang sudah dimulai sejak abad pertengahan Eropa, di saat orang-orang yang ingin menyandang gelar ahli harus menciptakan sebuah karya sesuai dengan bidang yang mereka tekuni terlebih dahulu. Ini menjadi sebuah pembuktian keahlian bagi seorang calon pekerja. Orang yang karyanya disetujui oleh asosiasi pekerja di Eropa akan memperoleh gelar ahli di bidangnya. Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut pun diterapkan di bidang pendidikan dan diadopsi oleh para pengelola perguruan tinggi sebagai cara untuk seorang mahasiswa dapat membuktikan diri sebelum mendapatkan gelar mereka.
Sumber: Liputan 6
Lalu, apa sebenarnya alasan skripsi dijadikan salah satu syarat kelulusan wajib bagi mahasiswa? Sebelum membahas pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengetahui lebih lanjut mengenai skripsi terlebih dahulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, skripsi merupakan karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya. Untuk dapat menulis sebuah karya ilmiah, seorang peneliti harus terlebih dahulu mengidentifikasi dan merumuskan masalah serta hipotesisnya. Hipotesis berarti anggapan dasar atau sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat (teori, proposisi, dan sebagainya) meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan (KBBI Daring). Karya ilmiah harus ditulis secara utuh, teratur, dan konsisten sesuai fakta dengan menyajikan hasil penelitian berdasarkan data yang valid. Dengan begitu, skripsi mendorong mahasiswa untuk dapat memecahkan masalah dengan pemikiran kritis dan terstruktur menggunakan metode ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Skripsi adalah salah satu alat ukur yang menentukan kelayakan mahasiswa untuk menerima gelar sarjana.
Terlepas dari reputasi jelek di kalangan mahasiswa, penulisan karya ilmiah (skripsi) sebenarnya mempunyai tujuan dan manfaat yang baik. Tujuan utama dari penulisan skripsi adalah untuk melatih peneliti dalam berpikir kritis dan komperhensif sehingga mereka akan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan baru. Setiap karya ilmiah mempunyai masalah tertentu yang harus dipecahkan. Untuk memecahkan masalah tersebut, peneliti dituntut untuk melakukan analisis dan riset berdasarkan data yang valid dan bukan hanya dengan asumsi. Proses penyusunan karya ilmiah itulah yang akan memperluas wawasan dan pengetahuan, melatih kemampuan berpikir kritis, serta memaksimalkan potensi ilmiah mahasiswa agar dapat membawakan hasil yang logis dan faktual.
Selain memperluas wawasan dan melatih kemampuan berpikir kritis, penulisan karya ilmiah juga memberikan beberapa soft skill lain yang akan berguna dalam tahap kehidupan kerja nantinya. Soft skill tersebut antara lain kemampuan membaca secara efektif, kemampuan untuk mencari sumber yang relevan, kemampuan dalam kegiatan kepustakaan, serta kemampuan untuk mengorganisasi data. Proses penulisan skripsi juga melatih kesabaran, komitmen, dan keikhlasan mahasiswa. Dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi hambatan-hambatan yang mungkin muncul dalam proses penulisan karya ilmiah, misalnya ketika dosen pembimbing sulit untuk dihubungi atau ketika proposal skripsi harus berulang kali direvisi. Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penelitian dan mencetak hasil penelitian pun tidak kecil. Maka dari itu, mahasiswa dituntut untuk ikhlas merelakan sebagian dari dana yang mereka miliki. Terlebih lagi, pengerjaan skripsi membutuhkan komitmen dan manajemen waktu, karena jika terus ditunda, masa studi mahasiswa pun akan bertambah lama.
Meski proses pengerjaan skripsi terbilang sulit dan rumit, penulisan karya ilmiah ini merupakan bagian dari TriDharma Perguruan Tinggi di Indonesia. Penulisan skripsi menjadi alat ukur untuk melihat sejauh mana mahasiswa memahami materi yang sudah dipelajari selama kegiatan perkuliahan dan apakah ia bisa menerapkannya di lingkungan masyarakat. Tugas akhir ini memiliki tujuan yang baik dan dapat memberikan banyak manfaat bagi para mahasiswa. Hal tersebut mempersiapkan setiap mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja yang mungkin akan jauh lebih keras dan menantang dengan melatih kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah. Selain berguna untuk pribadi masing-masing mahasiswa, hasil karya ilmiah juga dapat berguna bagi masyarakat dalam memberikan ilmu pengetahuan serta membuka kesempatan bagi peneliti-peneliti selanjutnya untuk menyempurnakan karya-karya terdahulu sehingga lebih relevan. Hasil karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa nantinya akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap individu.
Penulis: Vallerie Dominic

