Rudy Habibie: Tanggung Jawab Mahasiswa pada Tanah Air

Sumber: ANTARA News


“Menjadi mahasiswa adalah sebuah kehormatan.

Menjadi mahasiswa juga adalah sebuah tanggung jawab.

Kita adalah anak-anak masa depan.”


       Itulah yang dikatakan oleh Bacharuddin Jusuf Habibie, mantan presiden ketiga kita, dalam film berjudul Rudy Habibie. Kutipan yang diambil dari film berdasarkan kisah nyata tersebut melambangkan semangat, tekad, dan rasa tanggung jawab Habibie muda yang sangat kuat untuk membangun Bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik, bahkan ketika dirinya masih duduk di bangku perkuliahan.

       "Rudy Habibie" atau yang dikenal juga dengan judul alternatif "Habibie & Ainun 2", merupakan prekuel dari film Habibie & Ainun produksi MD Pictures yang diangkat dari kisah hidup masa muda B.J. Habibie ketika dirinya masih menempuh pendidikan di Universitas Teknologi Rhein Westfalen, Jerman. Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo tersebut merupakan sebuah paket lengkap yang menceritakan tentang sejarah, politik, pertemanan, cinta, dan pengkhianatan. Alur cerita menarik yang ditulis secara maju-mundur oleh Gina S. Noer, dilengkapi dengan akting kelas atas dari para aktor dan aktris cemerlang tanah air, membuat karya ini tidak pernah membosankan ketika ditonton. Berlatar Negara Jerman tahun 1960-an, karya ini menampilkan pemandangan-pemandangan indah Kota Aachen dalam berbagai cinematography yang menakjubkan. Selain itu, kostum-kostum yang sesuai dengan latar film terlihat sangat elegan ketika dipakai oleh para tokoh.

       Kisah ini dimulai di Parepare, Sulawesi, tempat kelahiran Rudy Habibie. Orangtua Rudy (panggilan masa muda B. J. Habibie) berasal dari dua suku yang berbeda, sehingga pernikahan mereka ditolak oleh kakek-nenek Rudy, dan keluarganya pun terpaksa hidup terpisah dari keluarga besar mereka. Sejak kecil, Rudy hidup berpindah-pindah lantaran pengaruh perang Indonesia-Jepang. Adegan pembuka pada film ini dipenuhi dengan efek visual ledakan bom dan pesawat tempur. Sayangnya, kualitas CGI yang digunakan di sini tidak terlalu bagus. Suntingan yang dilakukan tidak mulus sehingga penonton dapat dengan jelas melihat kepalsuannya. Kualitas CGI memang merupakan aspek yang perlu ditingkatkan dalam industri perfilman di Indonesia.

       Rudy (Reza Rahadian) mulai merantau sendiri sejak usia 14 tahun hingga akhirnya sampai di Aachen, Jerman untuk menjalani pendidikan tingkat tingginya. Di sana, ia bertemu dengan teman-teman sesama orang Indonesia dari berbagai suku dan ras, seperti teman lamanya di ITB yang merupakan keturunan Tionghua bernama Liem Keng-kie (Ernest Prakasa), mantan pejuang kemerdekaan Peter Manumasa (Pandji Pragiwaksono), putri keturunan Keraton Solo bernama Ayu (Indah Permatasari) serta abdi dalamnya Sugeng (Bagas Luhur Pribadi), dan Poltak Hasibuan (Boris Bokir) asal Medan. Melalui contoh kecil ini, penonton dapat melihat betapa tingginya tingkat keragaman di Indonesia. Walaupun memiliki suku dan ras yang berbeda, Rudy dan teman-temannya memiliki hubungan yang kuat sebagai sesama anak bangsa dan tidak pernah mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Maka dari itu, film ini juga secara tidak langsung mengajarkan kita bahwa perbedaan seharusnya tidak menjadi masalah, dan justru merupakan sebuah kekuatan jika terdapat pluralisme di dalamnya.

       Kehidupan Rudy semasa kuliah tidak sepenuhnya bahagia. Dirinya sempat mengalami berbagai kesulitan, stres, dan tekanan. Dimulai dengan kesulitannya dalam mencari tempat tinggal sebagai mahasiswa Indonesia di Jerman karena tidak ada yang mau menerimanya. Biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari pun tidak murah, terlebih karena Rudy merupakan mahasiswa mandiri yang tidak menerima pendanaan dari pemerintah seperti teman-temannya yang lain. Selain itu, watak Rudy yang sangat percaya diri hingga terbilang angkuh karena kepintarannya, membuat banyak orang termasuk kakak-kakak kelasnya membenci Rudy hingga mem-bully-nya secara verbal dan fisik.

       Menjadi seorang mahasiswa di negeri orang memang tidak mudah. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Sama seperti di tahun 1960-an, biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari di Eropa sekarang tidaklah sedikit. Hal ini dikonfirmasi oleh Janet Ika (atau yang biasa dipanggil dengan Ika), seorang alumni Jurusan Business Management Saxion University di Enschede, Belanda. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Belanda, ia menjelaskan bahwa biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari di Eropa jauh lebih mahal dibandingkan di Indonesia.

       “Sebenarnya, sih, kalau pendapatan Euro dengan pengeluaran Euro dibandingkan dengan pendapatan Rupiah dengan pengeluaran Rupiah, sama aja mahalnya. Tapi, kalau kita sebagai orang Indonesia dengan pendapatan Rupiah, di sini, ya, super mahal. (Perihal) biaya kuliah, sih, kalau international student (di Belanda), biaya kuliahnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan orang Belanda asli. Nah, biaya kuliah aku, dengan beasiswa kira-kira 40% itu, sama dengan (biaya) kelas internasional di UI,” jelas Ika ketika diwawancarai (03/12/2021).

       Mengalami hal yang sangat mirip dengan yang dialami oleh Rudy Habibie dalam film, gadis berusia 22 tahun tersebut mengaku juga sempat mengalami homesick atau kangen rumah. Untuk mengatasi hal itu, ia biasanya akan bergaul bersama sesama orang Indonesia di Belanda atau menghubungi kerabatnya di Indonesia melalui telepon. Walaupun begitu, ada juga hal-hal yang telah berkembang dibandingkan dengan zaman Rudy Habibie. Menurut Ika, mencari tempat tinggal sebagai pendatang di Eropa sudah tidak sesulit dahulu. Terdapat pihak-pihak yang dengan senang hati menyewakan tempat tinggal, terutama untuk sesama orang Indonesia yang tinggal di Belanda. Selain itu, berkat adanya globalisasi, orang-orang di setiap negara jauh lebih terbuka pada keragaman, sehingga mereka tidak mempermasalahkan adanya perbedaan budaya maupun bahasa.

       Kejadian-kejadian bersejarah dalam film Rudy Habibie dimulai ketika tokoh utamanya memutuskan untuk bergabung dan menjadi ketua dari organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia di Aachen. Rudy mengalami banyak kesulitan dalam meyakinkan teman-teman satu organisasinya untuk menjalankan seminar pembangunan bagi seluruh mahasiswa Indonesia di Eropa, di mana teman-temannya lebih memilih untuk bersenang-senang daripada memikirkan masa depan bangsanya. Untuk membujuk mereka, Rudy pun mengadakan pesta rutin di sebuah klub yang memutar lagu-lagu Indonesia dan menyediakan makanan-makanan khas Indonesia di kota itu. Di sana, ia bertemu Illona, seorang gadis keturunan Jerman-Polandia yang nantinya menjadi kekasih Rudy.

       Hingga sekarang, acara-acara serupa masih digelar secara rutin oleh PPI di negara-negara luar, termasuk di Enschede, Belanda. Ika mengatakan, PPI Enschede rutin menggelar dua festival kebudayaan Indonesia, yaitu Indonesian Evening dan Indonesian Food Festival. Selain untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada orang-orang asing, kedua festival tersebut juga dapat mengobati rasa rindu para mahasiswa yang belajar di Belanda.

       “Kalo di Enschede ini, kita punya dua festival besar, yang satu itu namanya Indonesian Evening, itu semacam festival budaya di mana ada konser tarian budaya dan makanan-makanan Indonesia. Terus, kadang ada games atau permainan-permainan Indonesia. Ada satu lagi namanya Indonesian Food Festival. Nah, itu bener-bener isinya makanan Indonesia semua, tapi  lebih lengkap daripada Indonesian Evening.”

       Sayangnya, masalah demi masalah pun terus bermunculan bagi Rudy selama keanggotaannya di PPI. Pada hari di mana kongres PPI seluruh Eropa diadakan, muncul pihak-pihak yang berusaha menghentikan jalannya seminar pembangunan yang dikemukakan oleh pria jenius tersebut, terlepas dari hasil pemungutan suara yang jelas-jelas menyetujui idenya. Sepanjang film, berkali-kali Rudy dan kawan-kawannya harus berseteru dengan pihak pemerintah ketika menjalankan rencana seminar pembangunan. Namun, bahkan ketika pria yang kala itu baru berumur 21 tahun didiagnosa dengan Tuberkulosis (TBC) tulang belakang, ia tetap tidak menyerah akan mimpinya untuk membangun masa depan Indonesia. Adegan demi adegan sangat mengharukan, bagaimana seseorang yang baru saja beranjak dewasa dapat memiliki tekat dan impian yang sangat kuat untuk bangsanya. Kecintaan dan patriotisme Rudy terhadap Indonesia sangat terlihat sejak awal cerita. Ini juga memercikkan semangat bagi para mahasiswa di masa sekarang untuk berbuat sesuatu yang akan berpengaruh dan memberikan dampak positif bagi negara.

       Stres dan tekanan berat karena perkuliahan dan keanggotaannya di PPI serta masalah percintaan bertubi-tubi menimpanya, tetapi di sela-sela itu semua, Rudy selalu mengingat kata-kata yang diucapkan oleh sang ayah untuk menjadi sebuah mata air dan memengaruhi orang-orang di sekitarnya dengan hal yang baik. Nasihat sang ayah tersebut membuat Rudy tetap bertahan dalam menjalani kehidupannya di Jerman. Ajaran kedua orangtuanya selalu tertanam dalam sosok Rudy Habibie. Sebagai seorang Muslim yang taat, pria muda itu juga selalu berserah dan mengandalkan Yang Maha Esa, terlihat dari dirinya yang rajin melakukan shalat.

       Toleransi antar agama dan kepercayaan juga menjadi salah satu aspek yang sangat disorot dalam film ini, terutama pada adegan di mana Rudy melakukan ibadah di dalam sebuah gereja karena minimnya jumlah mesjid di Jerman pada masa itu. Romo Mangunwijaya menghampiri Rudy ketika ia sedang sembahyang, dan Rudy bertanya apakah Romo Mangunwijaya akan menegurnya karena melakukan ibadah shalat di gereja. Namun, Romo Mangunwijaya saat itu hanya tersenyum dan menjawab:


“Kalau semua umat beragama seperti kamu, Rud, tidak perlu lagi tempat ibadah.

Tuhan itu lebih besar dari tempat ibadah, bahkan agama.”


       Adegan dengan Romo Mangunwijaya terjadi secara singkat, tetapi merupakan salah satu adegan yang paling berdampak dari seluruh cerita. Melalui adegan ini, tokoh Romo Mangunwijaya mengajarkan seluruh umat beragama bahwa hal yang paling penting adalah hubungan umat dengan Sang Pencipta, terlepas dari agama dan tempat ibadah. Poin ini dinilai sesuai dengan keadaan Indonesia yang sejak dulu- tidak dapat dipungkiri- juga sering terlibat konflik yang disebabkan oleh perbedaan dan keragaman agama serta kepercayaan. Kisah ini sekali lagi mengajarkan kita bahwa perbedaan seharusnya disikapi dengan rasa toleransi dan hormat antar sesama manusia.

       Film diselesaikan dengan perpisahan antara Rudy dan Illona, sosok yang selalu mendukung mimpi-mimpinya sejak awal. Pasangan tersebut harus mengakhiri hubungan mereka karena kecintaan dan patriotisme Rudy yang sangat besar pada Indonesia, lebih besar daripada cintanya terhadap Illona. Banyak air mata yang bercucuran ketika Rudy dan kekasihnya itu akhirnya sama-sama berjalan ke arah yang berbeda. Namun, walaupun merasa sedih, Rudy kembali bangkit untuk melaksanakan rencana seminar pembangunan yang sempat terhenti. Adegan terakhir ditutup dengan Rudy yang memutuskan pergi ke Praha, Republik Ceko, untuk menyusul teman-teman PPI-nya.

       Reza Rahadian dan para rekan aktornya telah memberikan penonton sebuah performa yang spektakuler melalui kemampuan mereka. Tidak disangka, Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono yang selama ini lebih dikenal dengan komedi-komedi mereka bisa berakting dengan serius. Selain itu, peran Chelsea Islan sebagai orang asing yang bisa berbahasa Indonesia sangat cocok dan detil, mungkin karena Chelsea memang memiliki darah campuran. Selain itu, logat bahasa Indonesia yang dia sajikan juga terdengar ke-bule-an. Hanya saja, sama seperti film lainnya, Rudy Habibie juga memiliki beberapa kekurangan. Sebagai film yang mengangkat biografi dari B. J. Habibie, tentu saja fokus utama film akan berada pada Rudy Habibie. Namun, sayangnya karya ini terasa terlalu berfokus pada tokoh Rudy saja, sehingga tidak ada tokoh lain yang menonjol. Bahkan tokoh Illona yang seharusnya menjadi pemeran utama wanita tidak memberikan dampak besar bagi penonton, sama seperti tokoh-tokoh pendukung lainnya. Oleh karena ini, hubungan antar tokoh tidak timbal-balik, yang berarti peran mereka lebih seperti pemandu sorak ketimbang tokoh yang ada untuk memengaruhi si tokoh utama.

       Setelah itu, walaupun alur cerita dapat terbilang menarik, terlalu banyak hal yang terjadi secara bersamaan, sehingga tidak ada fokus tertentu dalam cerita. Ini akan membuat penonton bingung jika tidak terlalu memperhatikan alur kisah tersebut. Pesan yang ingin disampaikan tentang kecintaan pada tanah air dan patriotisme pun seakan tertimbun oleh hal-hal lain yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk disorot. Belum lagi, beberapa adegan terlihat terlalu didramatisasi dengan angle kamera, efek slow motion, dan background sound yang membuat adegan-adengan tersebut malah terkesan murahan, seperti serial sinetron yang banyak ditayangkan di TV. Sangat disayangkan, karena adegan-adegan tersebut seharusnya bisa memberikan dampak emosional yang dalam kepada para penonton jika kelihatan lebih natural tanpa didramatisasi.

       Namun, terlepas dari beberapa kekurangan tersebut, film yang dirilis pada tahun 2016 ini merupakan karya yang baik secara keseluruhan. Melalui film ini, kita sebagai warga negara Indonesia, terutama mahasiswa, diajak untuk mengembangkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap ibu pertiwi. Menjadi mahasiswa bukan hanya soal belajar untuk mendapat nilai yang baik dan ijazah semata. Mahasiswa sebagai anak-anak bangsa yang berpendidikan harus bisa membangun masa depan negara Indonesia ke arah yang lebih cerah. Seorang mahasiswa Jurusan Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Muty Retno Hasanatun, membagikan pemikirannya tentang arti dan peranan mahasiswa. Perempuan yang tergabung dalam himpunan Fakultas Ilmu Komunikasi UMN tersebut juga sangat aktif dalam kepanitiaan. Ia menjelaskan bahwa menjadi seorang mahasiswa adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya.

       “Menjadi mahasiswa itu sebuah status yang gak bisa didapetin semua orang dengan cuma-cuma, karena dengan lo masuk ke dalam satu kampus aja, belum tentu lo mahasiswa. Kita membutuhkan suatu proses. Nah, proses itu yang belum tentu bisa dilakukan sama semua orang. Kalo lu gak ngelewatin proses ini, lo gak diterima di suatu kampus, dan gak bisa dibilang mahasiswa.”

       Tanggung jawab mahasiswa untuk negara pada zaman sekarang memang tidak sesulit pada zaman Rudy Habibie. Kita tidak harus ikut berperang atau merancang sesuatu dengan dampak yang sangat besar bagi bangsa. Peranan kita sebagai mahasiswa dapat dimulai dengan hal-hal kecil, seperti bertanggung jawab dengan tugas-tugas kuliah, belajar dengan tekun, dan menjaga sikap baik dengan sesama. Muty menambahkan, berbagi edukasi kepada orang lain juga merupakan kontribusi untuk masa depan bangsa. Dirinya sendiri adalah seorang sukarelawan yang mengajar anak-anak di Saung Baca Suradita, Tangerang.

       “Mereka adalah generasi-generasi selanjutnya. Tanpa mereka, kita gak tahu masa depan bangsa akan gimana. Bocah-bocah ini bisa jadi orang-orang besar nantinya,” ujar Muty ketika diwawancarai, Minggu (05/12/2021).

       Menjadi mahasiswa bukanlah sebuah hal yang mudah. Ketika mendaftar menjadi seorang mahasiswa, kita harus siap untuk dipersulit dengan segala tugas dan persyaratan untuk lulus. Namun, Muty mengatakan, dengan segala kesulitan dan proses yang harus kita tempuh, seiring waktu, hal baik pasti akan terjadi. Jangan pernah merasa sendiri, karena kita sebagai mahasiswa-mahasiswi Indonesia selalu berjuang bersama-sama.


Penulis: Vallerie Dominic

Popular posts from this blog

Agama dan Kepercayaan dari Kacamata Generasi Z

Gentingnya Obesitas sebagai Problematika Gizi di Indonesia